Salah Arah Kebijakan Ketahanan Pangan Nasional: Anggaran Terus Menurun, Lahan Menyempit, Impor Naik

Avatar photo

- Pewarta

Jumat, 21 Juli 2023 - 16:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gedung Perum Bulog. (Dok. Bulog.co.id)

Gedung Perum Bulog. (Dok. Bulog.co.id)

Oleh: Achmad Nur Hidayat, Ekonom UPN Veteran Jakarta dan Pakar Kebijakan Publik Narasi Institute.

Yuks, dukung promosi kota/kabupaten Anda di media online ini dengan bikin konten artikel dan cerita seputar sejarah, asal-usul kota, tempat wisata, kuliner tradisional, dan hal menarik lainnya. Kirim lewat WA Center: 085315557788.

JATENGRAYA.COM – Krisis ketahanan pangan kian mengintai Indonesia, sebagai dampak dari kebijakan pertanian yang kurang efektif.

Saat ini, Perum Bulog telah mendatangkan sekitar 300 ribu ton beras impor untuk memenuhi cadangan beras pemerintah (CBP) sebagai langkah antisipasi terhadap dampak El Nino.

Namun, data menunjukkan bahwa impor semakin bertambah karena anggaran pertanian terus menurun selama beberapa tahun terakhir dan lahan pertanian semakin sempit.

Hal ini cukup memprihatinkan, karena sektor pertanian adalah penyerap tenaga kerja terbanyak dan penting untuk menjaga ketahanan pangan di negara ini.

Indonesia telah mendatangkan 300 ribu ton beras impor sebagai bagian dari total penugasan 2 juta ton beras impor pada 2023.

Langkah ini diambil untuk memenuhi cadangan beras pemerintah dan mengantisipasi dampak El Nino.

Sebelumnya, sebanyak 500 ribu ton beras impor juga telah masuk ke pasar.

Upaya Memenuhi Cadangan Beras Dalam Negeri Direktur Bisnis Bulog, Febby Novita, menegaskan bahwa Bulog juga berusaha memenuhi cadangan beras pemerintah dengan menyerap sebanyak-banyaknya produksi dalam negeri.

Namun, impor beras selalu dilakukan tiap tahun tidak ada perbaikan. Dengan dalih stok beras, impor beras selalu andalan.

Meski Bulog berkomitmen untuk terus menyerap beras petani selama produksi masih ada dan melibatkan kelompok tani serta pihak terkait lainnya.

Namun impor yang terus menerus merupakan remedi ketahanan pangan yang salah.

Anggaran Pertanian Terus Menurun Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sektor pertanian menjadi penyerap tenaga kerja terbanyak, dengan mayoritas penduduk Indonesia bekerja di sektor ini.

Namun, anggaran Kementerian Pertanian (Kementan) terus menurun selama pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Peluang bagi aktivis pers pelajar, pers mahasiswa, dan muda/mudi untuk dilatih menulis berita secara online, dan praktek liputan langsung menjadi jurnalis muda di media ini. Kirim CV dan karya tulis, ke WA Center: 087815557788.

Setelah mengalami kenaikan signifikan pada tahun efektif pertama sebagai presiden, anggaran Kementan kemudian menurun hingga mencapai Rp14,45 triliun pada 2022.

Subsidi Pupuk Berkurang, Lahan Pertanian makin sempit dan diperparah dengan mahalnya harga pupuk, yang juga dipengaruhi oleh harga minyak dan gas dunia akibat konflik di Eropa.

Portal berita ini menerima konten video dengan durasi maksimal 30 detik (ukuran dan format video untuk plaftform Youtube atau Dailymotion) dengan teks narasi maksimal 15 paragraf. Kirim lewat WA Center: 085315557788.

Subsidi pupuk dari pemerintah juga mengalami penurunan nilai dari tahun sebelumnya.

Selain itu, lahan pertanian di Indonesia semakin sempit karena alih fungsi lahan untuk kebutuhan pemukiman, industri, dan infrastruktur lainnya.

Investor yang serius bisa mendapatkan 100% kepemilikan media online dengan nama domain super cantik ini. Silahkan ajukan penawaran harganya secara langsung kepada owner media ini lewat WhatsApp: 08557777888.

Kondisi ini jangan dibiarkan karena akan menempatkan Indonesia dalam kondisi yang rentan terhadap krisis pangan.

Jika impor beras ini terus dominan dilakukan dalam pemenuhan cadangan beras di Indonesia maka keberadaan petani padi tentunya akan terus berkurang.

Karena bertani beras tidak lagi menjadi pekerjaan yang menggiurkan.

Jika SDM petani semakin berkurang dan lahan semakin menyempit maka swasembada beras tidak akan pernah bisa lagi diwujudkan.

Ada beberapa langkah agar impor tidak selalu jadi andalan untuk memenuhi cadangan pangan nasional.

1. Negara harus meningkatkan Anggaran Pertanian.

Agar pemerintah meningkatkan anggaran untuk sektor pertanian guna memperkuat ketahanan pangan.

Anggaran yang memadai akan mendukung pengembangan infrastruktur pertanian, riset, teknologi, dan pelatihan petani untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi.

2. Peningkatan kembali subsidi Pupuk secara Efektif

Pemerintah harus melakukan evaluasi dan perbaikan pada sistem subsidi pupuk untuk memastikan bahwa pupuk dapat diakses dengan harga yang terjangkau oleh petani.

Selain itu, kebijakan untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk impor dan memperkuat produksi pupuk lokal harus diutamakan.

3. Pengelolaan Lahan Pertanian yang Berkelanjutan dan stop alih fungsi lahan pertanian

Pengelolaan lahan pertanian harus diutamakan untuk mempertahankan dan meningkatkan luas lahan pertanian.

Selain itu, dukungan untuk teknik pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan harus ditingkatkan.

4. Dukungan dan Pelatihan bagi Petani

Pemerintah harus memberikan dukungan dan pelatihan yang lebih baik bagi petani, terutama bagi petani kecil dengan lahan terbatas.

Pelatihan tentang teknik pertanian modern, penggunaan teknologi, dan manajemen usaha pertanian akan membantu meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani.

5. Membuat Kebijakan Pertanian Jangka Panjang

Diperlukan kebijakan pertanian yang berbasis jangka panjang, konsisten, dan berkesinambungan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan sektor pertanian.

Kebijakan ini harus melibatkan berbagai pihak, termasuk petani, akademisi, dan pihak swasta, untuk mencapai ketahanan pangan yang lebih baik di masa depan.***

Berita Terkait

Diperiksa Kejaksaan Agung Lebih dari 10 Jam, Sandra Dewi Bungkam Usai Jadi Saksi Kasus Korupsi Timah
UMKM Nahdliyin: Afriansyah Noor Berhasil Menciptakan Tata Kelola Ketenagakerjaan yang Efektif
Kota Lubuklinggau Anugerahi Gelar Adat kepada Wamenaker RI Afriansyah Noor
Fokus Persiapkan Diri Jelang Oktober, Presiden Terpilih Prabowo Subianto: Agar Tak Ada Waktu Terbuang
Kejaksaan Agung Kembali Sita 2 Buah Mobil Mewah Milik Harvey Moeis, Terkait Kasus Korupsi PT Timah Tbk
Puspom TNI dsn Polda Metro Jaya Tangkap Pengemudi Arogan, Pemalsu Plat Dinas TNI Noreg 84337-00 yang Viiral
Menlu Retno Marsudi Ungkap Kondisi Terkini WNI di Timur Tengah Pasca Serangan Iran ke Israel
Eskalasi Ketegangan Iran – Israel Meningkat, Indonesia Desak PBB Segera Ciptakan Perdamaian di Timur Tengah
Jasasiaranpers.com dan media online ini mendukung program manajemen reputasi melalui publikasi press release untuk institusi, organisasi dan merek/brand produk. Manajemen reputasi juga penting bagi kalangan birokrat, politisi, pengusaha, selebriti dan tokoh publik.

Berita Terkait

Kamis, 16 Mei 2024 - 15:07 WIB

Diperiksa Kejaksaan Agung Lebih dari 10 Jam, Sandra Dewi Bungkam Usai Jadi Saksi Kasus Korupsi Timah

Minggu, 12 Mei 2024 - 00:10 WIB

UMKM Nahdliyin: Afriansyah Noor Berhasil Menciptakan Tata Kelola Ketenagakerjaan yang Efektif

Selasa, 30 April 2024 - 07:59 WIB

Fokus Persiapkan Diri Jelang Oktober, Presiden Terpilih Prabowo Subianto: Agar Tak Ada Waktu Terbuang

Sabtu, 20 April 2024 - 15:36 WIB

Kejaksaan Agung Kembali Sita 2 Buah Mobil Mewah Milik Harvey Moeis, Terkait Kasus Korupsi PT Timah Tbk

Rabu, 17 April 2024 - 14:19 WIB

Puspom TNI dsn Polda Metro Jaya Tangkap Pengemudi Arogan, Pemalsu Plat Dinas TNI Noreg 84337-00 yang Viiral

Rabu, 17 April 2024 - 10:03 WIB

Menlu Retno Marsudi Ungkap Kondisi Terkini WNI di Timur Tengah Pasca Serangan Iran ke Israel

Selasa, 16 April 2024 - 12:03 WIB

Eskalasi Ketegangan Iran – Israel Meningkat, Indonesia Desak PBB Segera Ciptakan Perdamaian di Timur Tengah

Kamis, 11 April 2024 - 07:41 WIB

Jasasiaranpers.com Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1445 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin

Berita Terbaru